Keteladanan dari Sri Sultan Hamengkubuwono lX yang Perlu dicontoh bagi generasi Muda

May 28th, 2012

Beberapa waktu yang lalu kita mungkin mendengar dan melihat peringatan satu abad Sri Sultan Hamengkubuwono lX. Mengenang dan meneladani beliau memang bukan hal yang berlebihan, malah merupakan hal penting, untuk mengetahui perjuangan, jasa, dan kehidupan beliau supaya dapat menjadi contoh, inspirasi dan keteladanan bagi generasi sekarang, sebenarnya bila kita tahu jasa beliau  sangatlah besar bukan hanya bagi kerato yogyakarta, rakyatnya namun juga bangsa dan negara lndonesia. Bagi yang belum mengerti atau belum mengenal beliau, ada baiknya mengetahuai sejarah beliau.

Apa yang saya tulis tidaklah menekankan  tentang riwayat dan profil sultan HB IX, namun lebih melihat secara sekilas dengan bahasa yang mudah dipahami, agar mudah mengerti  jasa, peran, dan cerita dari  beliau yang besar dan patut dicontoh.  Sri Sultan HB IX, merupakan tokoh yang cukup terkenal dan  kharismatik.  jasanya bukan hanya kepada warga yogyakarta namun juga bagi bangsa lndonesia. Satu hal yang sangat penting adalah ketika beliau menyatakan dengan maklumat bahwa wilayahnya, kesultanan ngayogyakarta sebagai bagian dari republik lndonesia, dengan status daerah istemewa. Sejak saat itu yogyakarta menjadi daerah yang sangat penting bagi perjuangan  bangsa lndonesia.  Oleh karena itu tidak berlebihan bila menyebut seandainya tanpa yogyakarta, lndonesia mungkin takkan pernah ada. Beliau dengan kemampuan, wilayah dan kekuasaannya membantu dan mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan lndonesia. Ketika keadaan negara republik lndonesia sedang kacau karena serbuan belanda yang ingin menguasai kembali lndonesia, beliau menyediakan wilayahnya, yogyakarta sebagai ibukota negara. Beliau juga membantu pemerintah lndonesia dengan bantuan materi, banyak membantu para pejuang, menyediakan tempat tinggal bagi para pejuang dan keluarganya. Ibukota negara, yogyakarta menjadi pertahanan terakhir bagi bangsa indonesia. Waktu itu kantor presiden berada di gedung agung, dan kantor mentri menumpang di rumah penduduk. Keadaan para pemimpin dan pejabat bangsa lndonesia waktujangan bayangkan mewah dan berkesenangan, seperti sekarang, namun penuh penderitaan dan perjuangan dalam rangka memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsanya.  Beliau juga  berperan dalam serangan umum satu maret, yang membuka mata dunia bahwa tentara dan negara lndonesia masih ada, guna melawan propaganda Belanda bahwa RI telah hancur. Ketika Belanda berusaha menguasai lndonesia kembali  melalui agresi militernya, belanda sebenarnya menawari beliau dengan kedudukan yang tinggai, namun ditolak. Sebelumnya, ketika masa pendudukan Jepang, beliau menyelamatkan rakyat dari kewajiban romusha dengan memerintahkan rakyat untuk membuat selokan mataram, dengan alasan bahwa rakyat sedang membuat selokan mataram, maka rakyat tidak bisa digunakan tenaganya untuk romusha. Dari cerita tersebut terlihat bagaimana totalitas yang beliau berikan kepada bangsa dan negara.

Beliau juga pernah menjadi wakil presiden. Selama hidupnya beliau terkenal sederhana dan merakyat, padahal beliau adalah seorang raja, yang memiliki rakyat yang setia.dan gubernur sekaligus, yang pernah memegang jabatan pemerintahan.

Meskipun beliau telah tiada bagi warga yogyakarta yang pernah mengalami kepemimpinannya, beliau memiliki kesan yang mendalam.Salah satu cerita turun temurun yang saya dengar adalah, ketika beliau naik mobil perenah dicegat oleh seorang pedagang yang lama belum mendapatkan kendaraan untuk berangkat ke pasar, beliau kemudian berhenti lalu memberikan tumpangan, tanpa enggan juga membantu mengangkati barang dagangan ke mobil juga ketika menurunkan barang dagangan yang dibawa pedagang itu. pedagang yang menumpang itu sama sekali tidak tahu bahwa yang membantunya ialah sultan. Ketika pedagang itu turun dan menjadi perhatian orang dan petugas yang melikat, ia kemudian ditegur, mengapa ia berani lancang dengan sultan, pedagang itu kemudian baru menyadari bahwa orang tersebut adalah sultan hamengkubuwana lX, ia kemudian mencium tangan dan kaki sultan lalu pingsan, menurut cerita lain ia langsung pinsang setelah diberi tahu bahwa bahwa yang dihadapannya adalah sultan hamengkubuwono lX. Dari cerita ini dapat terlihat bagaimana kesederhanaan seorang pemimpin dan tiada rasa enggan serta tinggi hati karena merasa memiliki kedudukan yang tinggi.

Ungkapan lain dari beliau yang terkenal adalah `meskipun saya berpengetahuan barat, namun saya tetap orang jawa`. Sri Sultan HB IX memang meperoleh pendidikan di Belanda, namun dengan pendidikan di barat itu  tidak membuatnya mengagungkan kebudayaan barat, beliau  menjunjung tinggi kebudayaan jawa. Hal ini patut dicontoh bagi generasi muda supaya jangan latah mengikuti kebudayaan dari luar dengan meninggalkan kebudayaan sendiri. Apalagi pada masa sekarang banyak anak muda yang mengikutiu dan meniru segala sesuatu dari luar yang dianggap lebih unggul. Mereka cenderung meninggalkan budaya sendiri dan menganggap budayanya kuno, ketinggalan jaman, dst, sedangkan budaya luar dianggap lebih modern, unggul, baik.

Atas jasa beliaulah UGM yang semula menggunakan pagelaran kraton sebagai tempat kuliahnya diberi tempat di bulaksumur yang merupakan tanah milik kraton.

Pengertian lndigeneous People.

May 28th, 2012

Pengertian lndigeneous People.

Terdapat berbagai definisi tentang indigenous peoples , diantaranya ;

Instrumen HAM internasional menggunakan definisi Indigenous Peoples berdasarkan rumusan hasil studi oleh José Martinez Cobo: Indigenous communities, peoples and nations are those which, having a historical continuity with pre-invasion and pre-colonial societies that developed on their territories, consider themselves distinct from the other sectors of societies now prevailing in those territories, or parts of them. They form at present non-dominant sectors of society and are determined to preserve, develop and transmit to future generations their ancestral territories, and their ethnic identity as the basis of their continued existence as peoples, in accordance with their own cultural patterns, social institutions and legal systems. In short, Indigenous Peoples are the descendants of a territory overcome by conquest or settlement by aliens. (Par. 379) (UN Doc. E/CN.4/Sub.2/1986/7 and Add. 1-4 )

Definisi Konvensi ILO 169: Indigenous peoples are peoples in independent countries who regarded as indigenous on account of their descent from the populations which inhabited the country, or a geographical regions to which the country belongs, at the time of conquest or colonisation or the establishment of present state boundaries and who, irrespective of their legal status, retain some or all of their own social, economic, cultural and political institutions

Bank Dunia: Operational Policy 4.10, together with the Bank Procedures 4.10 ;

Identification. Because of the varied and changing contexts in which Indigenous Peoples live and because there is no universally accepted definition of “Indigenous Peoples,” this policy does not define the term. Indigenous Peoples may be referred to in different countries by such terms as “indigenous ethnic minorities,” “aboriginals,” “hill tribes,” “minority nationalities,” “scheduled tribes,” or “tribal groups.”

For purposes of this policy, the term “Indigenous Peoples” is used in a generic sense to refer to a distinct, vulnerable, social and cultural group possessing the following characteristics in varying degrees: (a) self-identification as members of a distinct indigenous cultural group and recognition of this identity by others;

(b) collective attachment to geographically distinct habitats or ancestral territories in the project area and to the natural resources in these habitats and territories;

(c) customary cultural, economic, social, or political institutions that are separate from those of the dominant society and culture; and

(d) an indigenous language, often different from the official language of the country or region.

Afrika: The overall characteristics are: their cultures and ways of life differ considerably from the dominant society and their cultures are under threat, in some cases to extent of extinction (Report of the African Commission’s Working Group of Expert on Indigenous Populations/Communities)

Philippina: IPRA Chapter II, Section 3:

Indigenous Cultural Communities/Indigenous Peoples – refer to a group of people or homogenous societies identified by self-ascription and ascription by others, who have continuously lived as organized community on communally bounded and defined territory, and who have, under claims of ownership since time immemorial, occupied, possessed and utilized such territories, sharing common

bonds of language, customs, traditions and other distinctive cultural traits, or who have, through resistance to political, social and cultural inroads of colonization, non-indigenous religions and cultures, became historically differentiated from the majority of Filipinos. ICCs/IPs shall likewise include peoples who are regarded as indigenous on account of their descent from the populations which inhabited the country, at the time of conquest or colonization, or at the time of inroads of non-indigenous religions and cultures, or the establishment of present state boundaries, who retain some or all of their own social, economic, cultural and political institutions, but who may have been displaced from their traditional domains or who may have resettled outside their ancestral domains;”

Di indonesia

Peristilahan dalam bahasa Indonesia sebagai padanan dari terminologi indigenous peoples sampai saat ini belum menemukan bentuk kesepakatan baku di antara berbagai kalangan. Perdebatan atau diskusi mengenainya mencakup dua aspek: pertama, tentang eksistensi, yaitu tentang apakah di Indonesia memang ada kelompok masyarakat yang dapat disebut sebagai indigenous peoples sebagaimana maknanya dalam diskursus tentang indigenous peoples di Barat; dan kedua adalah mengenai (jika ada kelompok- kelompok ini) istilah padanan dari indigenous peoples dalam bahasa Indonesia.

Kalangan pemerintah, lebih sering menggunakan istilah ‘masyarakat hukum adat’ di samping juga ‘masyarakat asli’. Pilihan ini dapat dipahami bila kita mempelajari sejarah politik di Indonesia dalam konteks hubungan antara Negara (State) dengan masyarakat (peoples dan bukan society). Sementara kalangan akademis banyak menggunakan istilah ‘masyarakat asli’, sebuah istilah yang hampir tidak digunakan oleh aktivis non-government organisation (NGO) yang bergerak di bidang hak asasi manusia dan lingkungan. Kelompok ini lebih memilih istilah masyarakat adat. Di tengah itu kita juga masih dapat menemukan penggunaan istilah ‘masyarakat tradisional’ oleh kalangan pemerintah, akademisi, individu maupun beberapa kalangan masyarakat sipil.

Menghadapi Kondisi di lndonesia yang Rawan Bencana Alam

May 28th, 2012

Menghadapi  Kondisi di   lndonesia   yang   Rawan  Bencana  Alam

Latar  Belakang

Indonesia  merupakan  daerah  yang  rawan  bencana alam  yang  tidak  dapat  dihindari. Secara geologi, wilayah Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif yaitu Lempeng Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur. Ketiga lempengan tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia dan menimbulkan gempa bumi, jalur gunungapi, dan sesar atau patahan. Penunjaman (subduction) Lempeng Indo-Australia yang bergerak relatif ke utara dengan Lempeng Eurasia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempa bumi dan rangkaian gunungapi aktif sepanjang Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng. Di samping itu jalur gempa bumi juga terjadi sejajar dengan jalur penunjaman, maupun pada jalur patahan regional seperti patahan Sumatera/Semangko.

Gempa bumi akibat interaksi lempeng tektonik juga bisa menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudera. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini, maka di Indonesia sering terjadi tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia, sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya (Puspito, 1994). Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami terutama di pantai barat Sumatra, pantai selatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau di Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Papua dan hampir seluruh pantai di Sulawesi.

Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim, yaitu kemarau dan hujan dengan ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang  beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Kondisi itu juga dapat menimbulkan terjadinya bencana seperti banjir, tanah longsor,  angin  topan dan kekeringan.

Berbagai  Bencana  Alam  di  lndonesia  dan   Penggulangannya.

Bencana   alam   adalah bencana yang  diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir,  kekeringan, angin topan, dan tanah longsor, yang mengakibatkan timbulnya korban manusia, kerusakan sarana-prasarana, lingkungan hidup dan  fasilitas umum.

Dari semua  bencana alam  itu  semuanya  bisa  terjadi  di  lndonesia.  Hampir semua  daerah  di  lndonesia  dapat dikatakan  rawan  bencana,  mungkin  hanya  pulau  Kalimantan  yang relatif  aman  namun  disana  beberapa kali  terjadi  kabut  asap  akibat  pembakaran  lahan.  Jenis bencana yang mungkin terjadi di lndonesia  gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, tanah longsor.

Gempa bumi adalah peristiwa pelepasan energi yang diakibatkan oleh pergeseran/pergerakan pada bagian dalam bumi (kerak bumi) secara tiba-tiba. Tipe gempa bumi yang umum ada dua, yaitu  gempa tektonik dan gempa vulkanik. Gempa tektonik disebabkan adanya aktivitas tektonik yaitu pergeseran lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan, gempa vulkanik disebabkan aktivitas magma sebelum gunung api meletus.

Dengan adanya  jalur tumpukan  lempeng  maka  lndonesia  riskan  terjadi  gempa  bumi.  Contoh  gempa  bumi besar yang  pernah  terjadi  di  lndonesia  misalnya  gempa  Bantul tahun 2006. Gempa  bumi  di  Bantul  merupakan  gempa  yang  bisa  dikatakan besar, yang  tidak  disangka  sebelumnya.  Ketika  gempa  terjadi  masyarakat  belum  mengerti  apa  yang  seharusnya  terjadi,  ketika  itu  juga  ada  isu  tsunami  yang  mengakibatkan  terjadi  kepanikan.

Setelah itu lndonesia kembali diguncang beberapa kali gempa yaitu gempa Papua.  Gempa  padang,  Gempa  bengkulu. Gempa di Papua barat terjadi pada 4 januari 2009 pukul 02.43.51 WIB dengan kekuatan 7,2 SR. Gempa Jabar pada  tanggal  2 semtember 2009 pukul 14.55.00 WIB berkekuatan 7,3 SR. Gempa ini  menimbulkan korban jiwa 81 orang,  42 orang hilang, 1297 luka-luka,  196.193 mengungsi.(data bnpb). Gempa Padang terjadi pada  tanggal  30 september 2009, pada pukul 17.16.09 WIB berkekuatan 7,6 SR. Gempa ini menimbulkan korban  terbanyak di kabupaten  Padang Pariaman dengan korban 666 meninggal dan  25 orang luka-luka, kabupaten Padang dengan korban 383 meninggal dan 1202 luka-luka, gempa juga berimbas di 16 kabupaten/kotamadya lainnya di Sumatra Barat.

Setelah  gempa Bantul  terjadi beberapa kali indonesia juga diguncang gempa bumi namun kita belum belajar dari pengalaman dan mengetahui apa  yang mesti dilakukan, sehingga ketika terjadi  gempa lagi yang tetap menimbulkan  banyak korban.

Gempa bumi tidak dapat dideteksi, diramalkan, dan dihentikan  yang dapat dilakukan adalah  mengantisipasi apabila terkena gempa bumi efeknya seminimal mungkin, dan apa yang perlu dilakukan bila menghadapi gempa.  Gempa  tidak secara langsung menimblkan korban,  yang  bisa  membunuh  dan  melukai  adalah  tertimbun  bangunan.  Oleh karena itu bisa diantisipasi bagaimana caranya meminimalisir dampak  tertimpa bangunan yang runtuh akibat  gempa.   Pembuatan  bangunan yang  tahan  gempa merupakan  cara mengurangi resiko tertimbun bangunan bila ada gempa, gedung  dan  bangunan  harus  dibuat  sesuai  standar.

Saat  terjadi  gempa bumi  hal  yang  perlu  dilakukan untuk mengecilkan  kemungkinan  tertimbun bangunan, adalah jangan panik, berlindunglah di tempat yang aman, dan kuat, hindari reruntuhan dan retakan bangunan, misalnya  berlindung  di  bawah meja. Setelah gempa berlalu hal yang perlu dilakukan adalah   keluar  dengan tertip, di tempat yang aman, hindari benda-benda berbahaya,  waspada gempa susulan, patuhi instruksi dari instansi terkait dan terus mengupdate informasi.

Hal  seperti  itu   belum   dipahami   dan dilakukan oleh  warga. Hal tersebut karena kurangnya sosialisasi dan percontohan dari pemerintah,  kurangnya informasi dan ketidaktahuan. Bila sudah tahu kadang tidak diindahkan, misalnya dalam pembuatan rumah dan gedung tidaklah terlalu diperhatikan standarnya.

Tsunami  adalah  adalah rangkaian gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan  oleh gangguan impulsiv dari dasar laut. Tsunami dapat disebabkan oleh: (1) gempa  bumi diikuti dengan dislokasi/perpindahan massa/batuan yang sangat besar di bawahair (laut/danau); (2) tanah longsor di dalam laut; (3) letusan gunung api di bawah laut atau gunungapi pulau

Sebagian  wilayah  di  indonesia  yang  berada   di  garis  pantai,    rentan terkena  tsunami. Tsunami  juga  tidak  dapat   diprediksi  dan   diketahui  dengan  pasti. Tsunami  yang pernah terjadi di lndonesia adalah Tsunami Aceh,  pada tanggal 24 desember 2004, tsunami itu sangat besar dan dahsyat. Beberapa kali juga terjadi tsunami lagi, yaitu tsunami  Pangandaran dan tsunami Mentawai.

Bila merasakan getaran bumi yang kuat pada saat berada di tepi laut, maka segera menuju tempat yang lebih tinggi,  bila ada tsunami segara menghindar karena pergerakan tsunami cepat, arus laut yang sangat kuat atau  air laut yang tiba-tiba surut bisa menjadi tanda akan datangnya tsunami.  Ada juga beberapa hal lain yang bisa meminimalisir efek bila terjadi tsunami   yaitu menanam hutan mngrove di daerah pantai,  memasang sistem peringatan dini di daerah yang berpotensi tsunami. Sebaiknya  masyarakat  yang  tinggal di  daerah  rentan  tsunami,  perlu disosialisasikan cara menghadapi tsunami. Kewaspadaan masyarakat yang tinggal di tepi pantai yang  rawan  perlu  dilatih.

Indonesia berada di  jalur kegunungan api teraktif di dunia. Gugusan gunung berapi memanjang sepanjang   pulau  sumatra, jawa,  bali, maluku, nusa tenggara, sulawesi tenggara. Jumlah gunung berapi aktif di lndonesia 127. Sekitar 13% gunung berapi aktif di dunia terdapat di lndonesia. Dari jumlah gunung berapi itu 68nya dipantau karena terdapat masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Peristiwa gunung api meletus  besar yang terakhir   adalah  gunung  merapi pada tahun 2010. Beberapa letusan gunung berapi lainnya yang  tidak menimbulkan korban jiwa,  namun penduduk disekitarnya diungsikan.  Bahaya dari adanya letusan gunung berapi adalah awan panas, material pijar, hujan abu, lava,  gas racun.

Untuk menghadapi bahaya gunung meletus  sebaiknya dilakukan pemetaan dan tata ruang wilayah oleh pemerintah dan dipatuhi masyarakat. Ketika gunung menunjukkan tanda-tanda letusan, setiap ada intruksi atau imbauan dari  pihak terkait harus dilaksanakan oleh masyarakat. Ketika sudah muncul tanta-tanda bencana sebaiknya, terus memantau situasi, kondisi dan perkembangannya. Pada kenyataannya ketika bencana gunung merapi banyak warga yang belum mematuhi sehingga banyak menimbulkan korban

Banjir adalah meluapnya air di daratan. Bila  musim  hujan  tiba, akibat curah hujan yang tinggi, di  beberapa  daerah  di  lndonesia  terkena  banjir  termasuk  ibukota  Jakarta. Banjir ini jarang menimbulkan korban jiwa namun mengakibatkan terganggunya sistem sosial.  Banjir  yang terjadi setiap musim hujan di lndonesia  seharusnya  bisa diatasi, dengan upaya dan kesadaran bersama dari pemerintah dan masyarakat. Upaya untuk  mengatasi  banjir misalnya  sistem  tata  ruang,  drainase,  area resapan, tata kelola sungai.  Pada kenyataanya pemerintah belum mampu mengatur dengan baik, kalaupun ada aturan tidak dilaksanakan dengan. Kesadaran masyarakat untuk mematuhi tata ruang, membuang sampah di sungai, tidak tinggal di tepi sungai masih rendah, pengembangan area pemukiman baru masih  kurang.

Longsor  merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, maupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun  lereng.    Longsor  seringkali terjadi  karena pergerakan tanah pada kondisi tanah yang curam  dan  tidak tertanami tanaman Longsor  biasanya terjadi di musim hujan di kawasan perbukitan dan pegunungan. Kondisi lingkungan turut mempengaruhi terjadinya longsor. Pada kenyatannya masyarakat masih banyak yang tinggal di derah yang rawan longsor, namun tidak memahaminya. Longsor  ini  bisa  diatasi  dengan  jangan membuat  bangunan  di  daerah  rawan  longsor,  sistem tanggul, fondasi, penanaman dengan pohon penguat.

Beberapa longsor  besar yang pernah terjadi di lndonesia adalah   di Ciamis, Jawa Barat pada tanggal 16 februari 2009, Pati 26 oktober 2009,  Palopo, Sulawesi Selatan pada tanggal 8 november 2009.

Angin topan  ialah  merupakan pusat angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering terjadi di wilayah tropis di antara agraris balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang  sangat dekat dengan khatulistiwa. Angin topan ini disebabkan oleh perbedaan  tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin topan dapat mengakibatkan robohnya pohon, rumah dan bangunan.  Untuk mengatasi angin topan dapat menebang pohon yang telah rapuh, membuat bangunan yang lebih kuat, jangan berbergian di jalan bila ada angin topan.

Kekeringan  ialah  kurangnya ketersediaan air  untuk kebutuhan  hidup, pertanian, ekonomi dan lingkungan. Kekeringan berdampak pada kesehatan manusia,  hewan dan tanaman. Kekeringan meneyebabkan tanah menjadi gersang  dan pepohonan mati. Beberapa cara untuk menghadapi kekeringan misalnya,  penggunaan teknologi antisipatif, mengatur pola tanam, pembuatan waduk dan penampungan air.

Kesimpulan  dan  Saran

Sesuai dengan keadaan alamnya, lndonesia rentan terhadap bencana alam. Di  negara inilah  kita akan tetap  tinggal.  Banyak  bencana  alam  ini  yang  tidak  dapat  diprediksi. Namun bukan berarti kita hanya pasrah, yang  dapat  dilakukan  adalah bagaimana mengantisipasinya, apa yang  harus dilakukan bila menghadapi bencana  untuk  meminimalisir  korban, bagaimana pemulihannya.   Keadaan  yang  seperti  itu  tidaklah  diikuti  pengetahuan  masyarakat  yang  memadai  bagaimana  menghadapi  bencana. Kegiatan penanggulangan bencana oleh  terbagi  menjadi tiga yaitu  preventif, sebelum terjadi bencana atau masa saat tidak ada bencana,  pada saat terjadi bencana, pasca bencana. Kegiatan pra bencana bisa berupa, sosialisasi, pemahaman menghadapi bencana, program penanggulangan bencana. Kegiatan pada saat bencana adalah, bagaimana dan apa yang sebaiknya dilakukan bila muncul tanda  akan terjadinya bencana, apa yang perlu dilakukan untuk meminimalisir terjadinya korban ketika ada bencana. Kegiatan pasca bencana misalnya bagaimana pemulihan korban, pembangunan kembali, dan penataan wilayah.

Pemerintah   berkewajiban  bagaimana  menghadapi  dan  menanggulangi  bencana. Peran  dan  kewajiban  pemerintah  menghadapi  bencana  adalah  pencegahan,  penanganan,  dan  pemulihan.  Pada  pencegahan bencana  adalah  bagaimana  mensosialisasikan  cara  menghadapi  bencana,  mengatur  sistem  dan  program untuk menghadapi bencana,  dan  mengatur tata keruangan wilayah yang rawan bencana. Kewajiban pemerintah bukan hanya sampai pada  undang-undang namun juga agar terlaksana di lapangan.  Pemerintah juga dituntut untuk memberikan  informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat.

Masyarakat adalah pihak yang menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam. Kepada masyarakat  sebaiknya memiliki kesadaran untuk  mematuhi  instruksi  dan  sosialisasi  dari  pemerintah. Sebelum bencana terjadi sudah memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Bila  bencana  terjadi  sebaiknya bisa melakukan  hal-hal yang perlu dilakukan  untuk meminimalisir korban Masyarakat juga bisa mencari sendiri pengetahuan dan informasi yang diperlukan  jangan hanya menggantungkan sosialisasi dari pemerintah..

Daftar Pustaka

Undang-undang Bencana  Alam  Nomer 24 Tahun 2007

www.google.com

www.wikipedia.org

www.bnpb.go.id

www.file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197106041999031-IWAN_SETIAWAN/Penanggulangan_bencana.pdf

www.bnpb.go.id/website/asp/content.asp?id=2

www.crayonpedia.org/mw/BAB.5_CARA-CARA_MENGHADAPAI_BENCANA_ALAM

www.medicastore.com/artikel/295/Waspadai_Bencana_Alam.html

www.menkokesra.go.id/content/indonesia-minim-data-gempa-bumi

www.bpbdjateng.info/telaah/ringkasan.pdf

www.kompas.com

sejarah konflik aceh

May 28th, 2012

Bila kita  mendengar  berita  Aceh  sekarang  adalah  tentang  penerapan  hukum  syariat  Islam,   otonomi khusus  aceh,  dan  keistimewaan  Aceh.  Namun  bila  mendengar berita  tentang  aceh  beberapa  tahun  yang  lalu yang mendominasi adalah  tentang  kontak  bersenjata  antara  aparat  keamanan dan  Gerakan  Aceh  Merdeka. Aceh  telah  mengalami  konflik  dan kekerasan  yang  berkepanjangan.  Tidak  terhitung  berapa  korban  jiwa,  orang-orang  yang mengalami  trauma,  kerusakan  benda,  kerugian  materi. Konflik  berkepanjangan  di  Aceh  baru  berakhir  dengan  perundingan  Helsinski pada  15  agustus  2005. Setelah  itu  masyarakat  Aceh mulai berharap  adanya  kedamaian  di  bumi  mereka.

Konflik  aceh  dengan  pemerintah  pusat  pernah  terjadi,  pada  masa  orde  lama,  waktu  itu  masyarakat  Aceh  protes  dimasukkannya   Aceh   dalam  propinsi  Sumatra  Utara,  padahal  Aceh  telah dijanjikan  akan  diberikan  otonomi  khusus  termasuk  pemberlakuan  syariat  lslam. Pemberontakan  in dipimpin  oleh  Daud  Beureuhreuh.  Semula  pemberontakan  ini  dihadapi  dengan  jalan  militer  namun  akhirnya  berakhir  dengan  damai,  dimana  Aceh  diberi  otonomi  khusus untuk mengatur  daerahnya.

Konflik  di  Aceh,  mulai  terjadi  lagi  pada  masa  orde  baru,  yang  ditandai  dengan  lahirnya  Aceh  Sumatra National  Liberation  Front(ASNLF),  yang kemudian  menjadi  Gerakan  Aceh  Merdeka,  dengan  tokonhnya  Tengku  Hasan  tiro,  yang memproklamirkan  kemerdekaan  Aceh  dengan  menyebut  wilayahnya  sebagai  negara  Aceh  Sumatra,  pada  tanggal  4  desember  1976.  Gerakan  ini  tidak  banyak  pengikutnya,  sehingga  dengan  mudah  dapat  dihancurkan  pemerintah  dengan  militer. Para  tokohnya  termasuk  Tengku  Hasan  Tiro,  kabur  ke  luar  negeri.   Setelah  itu  pemikiran  separatisme,  meminta kemrdekaan  Aceh  tetap  ada  walaupun  tidak  terlalu  Nampak  ke  permukaan.

Pada  tahun  1989,  muncul  gerakan  yang  menuntut  keadilan  dalam  pembangunan,  dan  memprotes  dampak  negatif  industrialisasi,  seperti  munculnya kemaksiatan, kriminalitas  yang  dianggap  tidak  sesuai  dengan keadaan  sosial  budaya di  Aceh.  Oleh  pemerintah gerakan  ini  disebut  sebagai  Gerakan  Pengacau  Keamanan,  yang  dianggap  menghambat  pembangunan. Sejak  mei  1989,  mulailah  babak  baru  dalam  konflik  Aceh  dengan  dijadikannya Aceh  sebagai  Daerah  Operasi  Militer. Pada  masa itu  banyak  terjadi  pelanggaran. Hukum, keadilan  tidak  berlaku,  yang  ada  adalah  kekerasan  militer. Pada  masa  itu  rakyat  Aceh  mengalami  kekerasan  oleh  militer.  Terjadi  juga  penyekapan,  pembunuhan,  pemerkosaan,  penyiksaan  oleh  militer  kepada  rakyat  Aceh.  Rakyat  Aceh  menderita  karenanya. Pemberlakuan  DOM  ini  juga melumpuhkan  sector  ekonomi  dan  pendidikan,  terutama  di  daerah  yang  banyak  menjadi  korban  DOM.

Sejak  tahun  1998,  pada  masa  pemerintahan  B.J  Habibi  dicabutlah  DOM  di  Aceh. Pencabutan  ini  seharusnya  bisa  membawa keadaan  yang  lebih  baik  bagi  rakyat  Aceh,  namun  keadaannya  tidaklah  begitu.  Pencabutan  tersebut  tidak  diikuti  dengan  rehabilitasi  korban  DOM,  sehingga  luka  masyarakat  aceh  belum  sembuh. Keadaan  ekonomi,  social,  hokum  di  Acehpun  belum  diperbaiki  oleh  pemerintah.  Keadaan  ini   dimanfaatkan  oleh  GAM  untuk  menarik  simpati  masyarakat,  sehingga  pengaruh  GAMpun  menguat.  Kekerasan  dan  konflik  di Acehpun  malah  mengalami  peningkatan.  Kebijakan  pemerintah  menyelesaikan  masalah  Aceh  secara  milter.

GAM  pada  periode  ini  merupakan  lanjutan  GAM periode  sebelumnya  dan  orang  yang  secara  ekonomi  kurang  baik.  Struktur  GAM  lebih  modern  dan  sistematis. Struktur  GAM  terdiri  dari  dua  bagian  utama  yaitu  petinggi  GAM  di  Swedia,  dan  struktur  operasional  di  Nangrgroe  Aceh. Meskipun  pada  waktu  itu  sudah  beberapa  kali  ada  perundingan  antara  pemerintah  RI  dan  GAM, namun  tetap  berlangsung  konflik  bersenjata.

Akar  Masalah  Konflik  Aceh

Akar masalah di  Aceh ada  dua  yaitu  alasan  ekonomi  dan alasan sosial-budaya.     Di   Aceh terjadi  ketidakterimaan  masyarakat   atas  masalah  ekonomi  yaitu  ketidakadilan  ekonomi dalam  pembagian  atas  hasil  aset sumber daya  alam. Aceh  yang kaya  akan  sumber daya  alam,  hasilnya  lebih  banyak  di ambil  ke  Jakarta,  dalam  pengelolaanpun aset-aset yang menghasilkan keuntunganpun masyarakat  Aceh  tidak  diberi banyak kesempatan. Masyarakat  aceh  secara  umum  kurang memiliki  kesejahteraan, kemiskinan, dan banyaknya pengangguran. Alasan  ekonomi inilah  yang  menjadi alasan  utama  protes masyarakat  Aceh,  terhadap  pemerintah  pusat  karena  merasa  diperlakukan  tidak  adil.

Selain  alasan  ekonomi,  protes  masyarakat  Aceh  juga  karena  alasan sosial budaya yaitu, masyarakat  Aceh ingin  budaya  mereka  yang  kental  dengan nuansa  lslam lebih  diterapkan  dalam  kehidupan. Secara  turun-temurun masyarakat Aceh  dikenal  melaksanakan  syariat  lslam  secara  ketat sejak masa kerajaan,  termasuk  ketika  mengalami puncak kejayaan  pada  masa  kerajaan  Aceh.

Adanya  kekhasan  budaya  dari  masyarakat  aceh  ini  membentuk  identitas khusus  yang  secara  umum  berbeda  dengan identitas  daerah  lainnya  di  lndonesia,  dan  bertubrukan  dengan  identitas  nasional.

Aspirasi orang  Aceh tidak  diperhatikan  dengan  baik  oleh pemerintah  orde baru, sehingga  segala macam  bentuk protes ditanggapi   dan  dianggap sebagai penghambat  pembangunan  yang   harus  dihilangkan. Pemerintah  orde baru menanggapi  hal  ini  secara  kekerasan  yaitu  dengan cara  militer, sampai akhirnya  dijadikannya  aceh  sebagai  daerah  operasi militer. Penyelesaian  secara  kekerasan  ini  tidak  menyelesaikan masalah. Hal inilah  yang  semakin  meningkatkan protes  berwujud  kebencian  masyarakat  aceh  terhadap  pemerintah  pusat. Ditambah pula  pengelolaan pemerintahan  yang  terlalu sentralistis. Akibat  adanya  operasi militer malah  mengakibatkan  masyarakat  aceh  juga menghadapinya  dengan  kekerasan,  dengan mempersenjatai  diri.

Masyarakat  aceh  juga  terkenal memilik semangat melawan yang  tinggi,  hal  ini  terlihat sejak  jaman  Belanda,  dimana  aceh  merupakan  daerah  yang  sulit  sekali  dan  paling  akhir  ditaklukkan, semangat mereka didasari  keyakinan berlandaskan  islam yaitu bila mereka  mati  dalam peperangan akan  mati  syahid.

Sejarah  Konflik  di  Aceh

Di  Aceh  sebenarnya pada  jaman  orla  sudah  ada  konflik  dengan  pemerintah  pusat,  yang  dipimpin  oleh  Daud bareuhreuh,  seorang  yang banyak berjasa  pada  republik  lndonesia,  seorang  tokoh masyarakat  Aceh, mantan gubernur militer Aceh,  gerakan  ini  karena  protes dimasukkannya  aceh  dalam  propinsi  Sumatra  utara. Padahal aceh banyak  berjasa  pada  republik  lndonesia  dalam perang  mempertahankan  kemerdekaan, dan presiden  RI Soekarno sudah  berjanji, Aceh akan  diberi  kebebasan dalam menjalankan Syariat lslam.   Daud bareuhreuh kemudian menyatakan,   memasukkan  Aceh  dalam  wilayah  DI/TII Kartosuwiryo.  Semula  gerakan  ini  dihadapi dengan  militer  namun  akhirnya berakhir  dengan diadakannya musyawarah kerukunan rakyat  aceh,  dengan  ini  berakhirlah  gerakan  ini.  Pemerintah  Indonesia kemudian memberikan  status derah istimewa  dengan  otonomi yang luas.   Hal  ini  kemudian  diformalkan  dalam  UU No.18  tahun  1965,  dimana  Aceh  memperoleh  keistimewaan  dalam hal agama,  adat-istiadat,  pendidikan.

Konflik  Aceh  yang  ditunjukkan  dengan  berdirinya  gerakan  aceh  merdeka dimulai dengan  Gerakan  Aceh  Merdeka  dengan  tokohnya,  Tengku  Hasan  Tiro, yang  memploklamirka kemerdekaan  Aceh  pada  4 desember 1976. Pemberontokan  ini  dalam  waktu  singkat  segara  ditumpas  pemerintah  dengan  senjata,  Tengku  Hasan  Tiro  dan   tokoh-tokoh lainnya  kemudian  melarikan  diri  ke  luar  negeri  ke  berbagai  negara,  hingga  akhirnya  menetap  dan  menjadi  warga  negara  Swedia. Walaupun  sudah  ke luar  negeri  namun  Hasan Tiro  masih  mengembangkan  pemikiran  dan  memimpin  GAM.  Ketidakterimaan  masyarakat  Aceh  juga  karena  karena  diberlakukannya UU  No.5  tahun  1974  tentang  pokok-pokok  penyelenggaraan  pemerintahan  di  daerah,  yang  diikuti  penghapusan UU No.18  tahun  1965,  yang  dipahami  rakyat  Aceh  sebagai  pencabutan  status  Aceh  sebagai  derah  istimewa  yang memiliki otonomi  dalam  mengatur  daerahnya.

Walaupun  telah  ditumpas  namun  pada  kenyataannya  GAM, masih berkembang  di masyarakat. Dalam  waktu  singkat  sesuai  dengan  kondisi  masyarakat  Aceh,  GAM   segera  mendapat  simpati  masyarakat  Aceh  karena  memberikan  harapan. Sebenarnya  perjuangan  GAM  tidak  dilandasi  oleh  keagamaan.  Tuntutan  utama  GAM  adalah  pemisahan  wilayah  atau  kemerdekaan  aceh  dari  lndonesia. Tuntutan  ini  terus  berlangsung  selama  konflik  bersenjata  sampai  masa  reformasi.  Dalam  perjuangannya  GAM  di  aceh  menggunakan  cara  militer,  yaitu  menyerang  aparat  keamanan,  menyerang  symbol-simbol pemerintah. Ketika konflik  aceh  yang  berkepanjangan  berlangsung,   mengakibatkan  korban  jiwa  di  kedua  belah  pihak, ketakutan,  kerugian  materi  yang  banyak.

Orde baru  dengan soehartonya   telah  ditumbangkan  oleh  reformasi,  pendekatan  terhadap  GAMpun  berubah. Ketika reformasi  aceh sebagai  daerah operasi militer  dicabut, operasi  militerpun sedikit mengendur. Selain menggunakan pendekatan  militer,  pemerintahpun  menggunakan  jalur  perundingan  dengan  GAM.  Pada  proses  perundingan  tahun 2000-2002, beberapa kali  terjadi  pelanggaran  dan  gagal. Bagi  pemerintah,  NKRI adalah  hal yang  tidak  bisa  ditawar,  bagi  GAM   kemerdekaan  adalah  tuntutan  yang  tidak  bisa  ditawar,  namun pada  akhirnya pemerintah lndonesia  dan  GAM  sama-sama melunak, pemerintah menerima  opsi  penyelesaian  dengan  syarat,  Aceh  tetap  menjadi  bagian  NKRI,  GAM  pun  pada  akhirnya tidak menginginkan  kemerdekaan, hanya  menginginkan  Aceh  mempunyai  otonomi  yang  luas dalam  mengatur  politik,  ekonomi  dan  social-budaya.

Ternyata penyelesaian  masalah  aceh secara militer yang  berkepanjangan juga  menghabiskan  dana  yang banyak,  tidak  menyelesaikan masalah,  tidak dapat mengahabiskan  GAM, dari  sisi  GAM, perjuangan  bersenjata  mereka  juga  tidak  membuahkan  hasil  yang  diinginkan. Ditambah  lagi adanya  momentum  yaitu bencana tsunami yang memporak porandakan  aceh, pada tanggal 26 desember 2004, yang menelan banyak korban, menghancurkan   infrasuktur. Akhirnya  pemerintah  lndonesia  dan  GAM  serius menyelesaikan  masalah  Aceh   melalui  perundingan. Setelah  melalui  proses  yang  panjang  akhirnya  perundingan  perdamaian  Aceh  memasuki  babak  baru.

Akhirnya  terjadilah  proses  menuju perundingan  Helsinski,  lalu  tercapailah  perundingan  Helsinski  pada  tanggal  15  agustus  2005.  Dalam  perundingan  Helsinski  tim GAM  terdiri  atas  perdana  mentri  Malik  Mahmud,  mentri  luar  negri  Zaini  Abdullah,  juru  bicara  Bahtiar  Abdullah,  pejabat  politik  Nur  Djuli  dan  Nurdin  Abdul  Rahman,  kemudian  ditambah  Shadia  Marhaban  dan  Irwandi  Yusuf.  Delegasi  Rl,  dipimpin  menkumham  Hamid  Awaludin, Menkominfo  Sofyan  Djalil,  yang  merupakan  putra  asli  Aceh,  deputi  menko  kesra  dr  Farid  Husain, dan dua  pejabat  kementrian  luar  negri. Perundingan  ini  membawa  hasil  yaitu  dintandatanganinya  MoU antara  pemerintah  lndonesia  dan  GAM.

Ketika  proses  perundinganan  dengan  GAM, di  dalam negeri ada  sedikit ketidaksetujuan  yaitu  oleh  beberapa  perwira  TNI  dan  beberapa  pendapat  di  parlemen,  yang menetang  perundingan  damai, namun  ini  dapat  diatasi  dan  tidak  mengganggu  proses  perundingan.

Secara  umum,    MoU  Helsinski  ini  berisi  penyelenggaraan  pemerintahan  Aceh,  partisipasi  politik  Aceh,  hak-hak  ekonomi  bagi  Aceh,  pembentukan  undang-undang  tentang  Aceh, penyelesaian  masalah  pelanggaran  HAM,   pemberian  amnesty  dan  reintegrasi  mantan anggota  GAM,  pengaturan  keamanan.  Setelah  perundingan  ini  implementasi  hasil  perundingan  segera  dilaksanakan, secara bertahap.

Kesimpulan

Aceh, yang dikenal  sebagai serambi mekah, daerah  paling  barat  di lndonesia  dengan  otonomi  khusus.  Aceh  memiliki  sifat  kekhasan  dalam  budaya,  yaitu melekatnya islam  ke dalam  budaya  mereka  sejak  jaman kerajaan.   Aceh  juga  memiliki kekayaan  sumber  daya  alam  yang  melimpah.

Karena  pengaturan  yang  tidak  tetap, kekhasan budaya  masyarakat  aceh  dan  kekayaan  sumber daya  alam  itulah  yang  mengakibatkan  masalah salah  satu  diantaranya adalah konflik yang berlarut-larut.

Ketika masa  orde lama,  aceh  sudah  pernah  mengalami  konflik  dengan  pemerintah pusat. Waktu  itu  karena  kekecewaan,  yang  disebabkan,  Aceh  yang  banyak  berjasa  kepada  republic  lndonesia,  dan  telah  dijanjikan  oleh  Soekarno  akan  diberi  kebebasan  dalam  mengatur  daerahnya  sesuai  syariat  islam,  ketika  pembentukan  propinsi  malah  dimasukkan dalam  propinsi  Sumatra  Utara. Pemberontakan  ini  dipimpin  Daud Beureuhreuh,  pada  awalnya  ditumpas  secara  militer, namun  pada  akhirnya  berakhir  dengan damai  lalu  pemerintah  memberikan  otonomi khusus pada  Aceh  dan memberikan  kewenangan  untuk mengatur  daerahnya  sesuai adat,  dan  budayanya  yang  lekat  dengan  syariat  islam.

Ketika  orde  baru  yang  identik  dengan  pembangunan,  acehpun  seakan  oleh  pemerintah  di bangun,  sumber  daya  alam,  kekayaan  alam,  sumber  ekonomi  aceh  di olah  oleh  pemerintah  pusat.  Sayangnya  pengolahan  tersebut  tidak  memuaskan  masyarakat  aceh, karena hasil  ekonomi  lebih  banyak  diangkut  ke  Jakarta,  pembagian  yang  tidak  adil. Masyarakat  acehpun  memprotesnya,  namun  aspirasi ini  oleh  pemerintah  tidak  digubris  malah  ditangggapi  dengan  kekerasan.

Keadaan  sosial  budaya  masyarakat  Aceh  yang  memiliki  kekhasan  dibandingkan  daerah  lain  di  lndonesia,  yaitu  melekatnya  ajaran  lslam    yang  sudah  turun-temurun  yang  diimplementasikan  dalam  aspek  kehidupan  mereka. Masyarakat  acehpun  ingin  diberi  kekuasaan  lebih  untuk menerapkan  syariat  lslam  di  tanah  mereka. Namun  oleh  pemerintah pusat,  hal  ini  diabaikan,  pemerintah  cenderung  menganggap  daerah-daerah  di lndonesia  disamakan.   Dalam  hal  ini  pemerintah  terlalu  sentralistis.

Setelah  orde baru  tumbang,  pendekatan  militer  dalam  mengatasi  masalah  aceh,  sedikit  berkurang,  pemerintah  juga  menggunakan  jalur  perundingan.  Setelah  berbagai  perundingan gagal, akhirnya  pada  agustus  2005,  terjadilah  perundingan  Helsinski  yang  dilakukan  di  Helsinski,  Finlandia, yang menghasilkan MoU Heksinski  Perundingan  ini  sangat  monumental  dan  mengakhiri  konflik  berkepanjangan  di  Aceh. Secara  umum setelah  perundingan  tersebut,  pengimlementasian  dilaksanakan  secara  bertahap, seperti  persentase  penarikan  pasukan  TNI, berbanding  dengan penyerahan  senjata dari  GAM. Kemudian  dana  reintegrasi bagi  mantan  anggota GAM, juga bantuan kesejahteraan.

Kini  di  aceh  secara sudah  dilaksanakan  secara  bertahap peraturan sesuai  hasil perundingan  helsinski seperti otonomi khusus, pembentukan partai local. Partai  local  yang  banyak  memperoleh  suara  adalah  partai Aceh  yang  merupakan  transformasi  dari  KPA(Komisi Peralihan Aceh), yang merupakan wadah bagi para  anggota  GAM.  Gubernur  Aceh terpilih, lrwandi  Yusuf  merupakan  bekas  tokoh  GAM,  para  mantan  anggota  GAMpun  banyak  yang  memenangkan  pemilihan  kepala  daerah.

Acehpun  secara  bertahap  melaksanakan  hokum  islam  seperti,  pewajiban  jilbab,  hukuman  cambuk  bagi  penjudi, pelarangan minuman keras, perjudian  serta prostitusi, dan  masih  dalam  proses hokum  jinayat.

Walaupun  secara  garis  besar  konflik  besar  di  Aceh  telah  selesai, namun  bukan  berarti masalah  aceh  akan  selesai. Masalah di Aceh  masih  mengalami  berbagai  perkembangan sesuai  situasi  dan  kondisi  terkini.

Dari  masalah  Aceh  ini  dapat  dilihat  bahwa  tiap  wilayah  di  lndonesia  memiliki  keadaan  yang  berbeda  beda,  sehingga  untuk  mengurusnya  diperlukan  kebijakan  yang  berbeda  dengan  kearifan  local  budaya  setempat. Dari  sini  terlihat  juga  pentingnya  untuk  mempelajari  budaya,  keadaan  sosial  masyarakat,  sejarah  daerah, dari  tiap-tiap  wilayah  di  lndonesia  untuk  merumuskan  kebijakan  yang  tepat  dalam  mengurusi  daerah.

Daftar  pustaka

Husain,  Farid. 2007.  To  See  the  Unseen.  Jakarta; Health  and  Hospital

Awaludin, Hamid. 2008.  Damai di Aceh, Catatan Perdamaian RI-GAM di Helsinki,

Jakarta; CSIS

Firawati,  Titik. 2010. Proses  Perdamaian  di  Aceh  dan  Thailand  Selatan. Makalah Seminar

Weininger,  Elliot B. Chapter 4.  Pierre  Bourdieu on Social  Class  and   Symbolic  Violence.

Siswowiharjo, Tri Agus 2003 GAM; Gerakan  Aceh  Merdeka. Garba Budaya

Sulaiman, M.Isa 2000. Gerakan  Aceh  Merdeka; ideology kepemimpinan  dan gerakan.  Jakarta; Pustaka Al-kautsar

Alfian(ed).1977. Segi-segi  Sosial Budaya Masyarakat  Aceh. Jakarta;LP3ES

Reid, Anthony.2006  Verendah  of  Violence; the Bagroud to the  Aceh. Singapore University Press and Whasingthon University  Press.

Hamid, Ahmad Farhan. 2006. Jalan  damai Nangro  Endatu; Catatan  seorang  wakil  rakyat. Jakarta;suara bebas

Dan dari  sumber-sumber  internet

Tradisi Sekaten di Yogyakarta

May 28th, 2012

Tradisi   Sekaten  di  Yogyakarta

Sejarah    Sekaten

Istilah  sekaten  berasal  dari  kata  syahadatain  yang  berarti  dua  kalimat syahadat,  yaitu   Aku  bersaksi   bahwa   tiada  Tuhan  selain  Allah  dan    Nabi  Muhammmad  utusan  Allah.      Penyelenggaraan perayaan sekaten  yang menjadi,   mulai  diselenggarakan  pada  masa  kerajaan  Demak  dibawah pimpinan  Raden  Patah dengan bimbingan  Wali  Sanga.  Acara  sekaten  kemudian  diteruskan  oleh  sultan  Demak  selanjutnya  yaitu  Pati  Unus  lalu  Sultan  Trenggono.

Walaupun   ada   sedikit  perbedaan  pendapat  tentang  apa  yang  menyebabkan  sekaten  pertama  kali   dilakukan.   Dapat  ditarik  kesamaan  bahwa   sekaten  dimulai  pada  masa kerajaan  Demak ketika  pemerintahan  Raden   Patah,   untuk  melestarikan  tradisi  perayaan tahunan yang  sudah ada  pada  masa  Majapahit.  Hal  tersebut  mungkin  karena   Raden  Patah   adalah  anak  raja  terakhir  Majapahit,  Prabu Brawijaya  V,   sehingga  ingin  melestarikan  tradisi  warisan  leluhurnya.  Ditambah  sulitnya  menghilangkan  tradisi  yang  sudah  berakar  di masyarakat waktu  itu.  Tapi  tradisi yang berasal  dari  masa  Hindu-Budha  Majapahit itu  dianggap  tidak  sesuai dengan  islam,  maka  atas  kesepakatan  dengan  wali  sanga,  tradisi  itu  disesuaikan  dengan  ajaran  islam,  yaitu  dilaksanakan  pada  bulan  maulud  tanggal  duabelas  dengan  maksud  memperingati  hari  kelahiran  nabi  Muhammmad. Masyarakatpun  menyambut  dengan  gembira,  para  wali sanga  kemudian memanfaatkan  sekaten  ini  sebagai  cara   memperkenalkan  islam  pada  masyarakat.

Pada perayaan  sekaten,  gamelan  yang  sangat  disukai  masyarakat  dijadikan  alat  musik,  hal ini  menarik  masyarakat  untuk  datang. Gamelan  sekaten  masih menyisakan  pertanyaan  manakah  gamelan yang  berasal  dari   warisan  Prabu  Brawijaya  V  dan  dari   Sunan  Klijaga,  karena  kraton  Yogyakarrta  dan  kraton  Solo  memiliki  sepasang  gamelan.  Gamelan   Sekaten  sebagai  pusaka  kerajaan  ikut  berpindah  tangan  mengikuti  kekuasaan  mulai   dari Demak,  Pajang,  Mataram lslam.  Kemudian   Mataram lslam   dipecah  menjadi  dua  yaitu  Kasultanan  Ngayogyakarta  dan   Kasunanan   Surakarta,  gamelan sekaten  juga  dibagi  dua.  Namun  tidak  dapat  dipastikan    manakah  yang  mendapat  Gong  kiai  Sekar  Delima  warisan  Brawijaya  V  dan  Gong  Kiai  Sekati  warisan  sunan  Kalijogo.   Penelitian  hanya  menyebut karena  gamelan  harus  sepasang  maka  masing  masing  membuat gamelan  baru  sebagai  pasangannya.  Di  Yogyakarta  Gamelan  sekaten  diberi  nama  Kiai   Guntur  Madu  dan  Kiai  Nagawilo.  Di  Surakarta  gamelan  sekaten  diberi nama  Gong  Guntur  Madu  dan  Kiai   Guntur  Sari.

Masjid  agung  Demak  yang  dibangun  para  wali menjadi  tempat penyelenggaraan  sekaten. Kedatangan  masyarakat  yang  akan  melihat  perayaan  sekaten  kemudian  disambut  para  wali  serta  santrinya untuk  diperkenalkan  agama  islam.  Sebelum  masuk,  masyarakat  diajari  berwudhu,  diteruskan  membaca  kalimat  syahadat,  lalu  masuk  ke  masjid  mendengarkan  ceramah  tentang  agama  islam.

Wali sanga menggunakan sekaten sebagai  sarana memperkenalkan  agama  islam pada  masyarakat  Demak.  Perayaan  sekaten  turut  andil dalam   penyebaran  agama  lslam  di  pulau  Jawa.  Para  wali  memanfaatkan  sekaten  untuk  penyebaran  agama islam.  Perayaan  sekaten  turut  mempercepat  proses  islamisasi   di  pulau Jawa.  Jadi  sekaten  digunakan  untuk  menyampaikan  ajaran  islam  melalui  kebudayaan.

Pemerintahan Demak   kemudian   dipindahkan  ke  Pajang  oleh  Jaka   Tingkir.  Dari  Pajang  lalu  dipindahkan  ke  Mataram oleh  Sutawijaya (Panembahan  Senopati). Pada masa   itu  sekaten  tetap  diselenggarakan.  Pada  masa  Sultan  Agung,  yang mempunyai  perhatian  terhadap  adat-istiadat  Jawa,  perayaan   Sekaten  disempurnakan  dan  ditingkatkan  kualitasnya.   Melalui  perjanjian  Giyanti  kerajaan  Mataram  dipecah  menjadi  dua  yaitu  kasunanan   Surakarto  dengan   pimpinan  Sunan   Pakubuwono   lll   dan  kasultanan  Ngayogyakarto   Hadiningrat  dengan  pimpinan. Pangeran  Mangkubumi   yang  bergelar  Sri  Sultan  Hamengkubuwono  Ngabdurahman   Sayidin  Panatagama  Khalifatullah l.  Sekaten  tetap  berlangsung    di  kedua   wilayah  kerajaan  tersebut.

Tradisi   Sekaten  di   Keraton    Yogyakarta

Setelah  menjadi     sultan  di   Ngayogyakarto  Hadiningrat,   Sri  Sultan   Hamengkubuwono  l,  untuk  pertama  kalinya  menyelenggarakan  upacara  perayaan  sekaten.   Sultan   Hamengkubuwono  l,  yang    mempunyai  perhatian  terhadap    tata  cara  dan  adat  keraton  bermaksud  meneruskan  tradisi  yang  sudah  ada  sejak  sebelumnya.  Sekaten  pada  masa  Pemerintahan  Hamengkubuwono  l melibatkan seisi  keraton,  aparat  kerajaan,  seluruh  lapisan  masyarakat,   dan  mengharuskan  pemerintah  kolonial  berperan  serta.  Pada  masa  tersebut  rakyat hidup  aman,  tentram  dan  sejahtera. Upacara   kerajaan    seperti  sekaten  juga  mencerminkan   kemuliaan,  kewibawaan  keraton,    kehidupan,  dan  tingkat  kebudayaan  keraton.   Keraton  berfungsi  sebagai   pusat  tradisi  dan   kebudayaan  Jawa.

Perayaan  sekaten   juga  terus  dilangsungkan  oleh  sultan  sesudahnya  sampai  sekarang  pada  masa    Sri  Sultan  Hamengkubuwonop  X.   Walaupun  dalam  keadaan  gawat  seperti  ketika  Belanda   membuat  kemelut  dengan  menurunkan  tahta  Sri  Sultan  Hamengkubuwono  ll,  digantikan  Sri   Sultan  Hamengkubuwono  lll,  sekaten  tetap  dilangsungkan.

Secara     garis  besar  rangkaian  upacara  sekaten  adalah  sebagai berikut;

–         Perayaan  sekaten  diawali  dengan  slametan  atau  wilujengan  yang  bertujuan   untuk mencari  ketenraman  dan  ketenangan.  Slametan  ini  dimulai  dngan  pembuatan uborampai  sampai  perlengkapan  gunungan.  Ini  juga  sekaligus menandai pembukaan pasar  malam  sekaten.  Pada  bagian ini  masyarakat  banyak berkunjung  untuk  mencari hiburan  atau  membelui makanan  yang  dijual.

–         Satu   minggu  sebelum  puncak acara sekaten  gamelan   dikeluarkan  dari  keraton dibawa  ke  Masjid  Agung,  kemudian  diletakkan  di  Pagongan  Utara  dan  Pagongan Selatan  atau  miyos  gongso.  Selama   satu  minggu  gamelan  Kiai Guntur Madu dan Kanjeng   Kiai  Ngawila   dibunyikan  terus  kecuali  pada saat adzan  dan  hari  jumat.

–         Upacara  numlak  wajig   yang  bertempat  di  magangan  kidul.  Upacara  ini  menandai pembuatan  gunungan  wadon.  Upacara  numplak  wajik diiringi  gejok lesung tujuannya agar pembuatan  gunungan   wadon berjalan  lancar.

–         Miyos  Dalem  di  Masjid  Agung  Yogyakarta.  Acara  ini  dihadiri  oleh  Sultan, pembesar keraton, para  bupati,  abdi  dalem  dan  masyarakat,  selain  itu  juga  dihadiri  wisatawan yang   ingin menyaksikan.  Pada  acara  ini   dibacakan  riwayat  hidup  Nabi  Muhammad Miyos  Dalem berakhir   dengan  Kondor  Gongso  atau  gamelan  dibawa  masuk  lagi ke  keraton.

–         Puncak acara dari perayaan Sekaten adalah  grebeg maulid,   yaitu keluarnya sepasang gunungan dari Mesjid Agung seusai didoakan oleh ulama Kraton. Masyarakat masih percaya bahwa siapapun yang mendapatkan gunungan tersebut,  akan dikaruniai kebahagiaan dan kemakmuran. Kemudian tumpeng tersebut diperebutkan oleh ribuan warga masyarakat. Mereka meyakini bahwa dengan mendapat bagian dari tumpeng akan mendatangkan berkah bagi mereka, karena  itu  mereka  saling  berebut.  Selain di  Yogyakarta  grebeg  maulud  ini  juga  ada  di  Surakarta,  Banten  dan  Cirebon

Grebeg  maulud  dilaksanakan  padan  tanggal  12  bulan  maulud,  tujuannya  untuk  memperingati  kelahiran  nabi  Muhammad.   Mereka  yang  berebut  gunungan  itu berkeyakinan bahwa dengan turut berpartisipasi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW akan mendapat imbalan pahala dari Yang Maha Kuasa, dan dianugerahi awet muda. Sebagai Srono (syarat)nya, mereka harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan sekaten. Oleh karenanya, selama diselenggarakan perayaan sekaten itu, banyak orang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih bersama lauk-pauknya di halaman Kemandungan,  di Alun-alun Utara maupun di depan Masjid Agung Jogjakarta. Bagi para petani, dalam kesempatan ini memohon pula agar panenannya yang akan datang berhasil. Untuk memperkuat tekadnya ini, mereka memberi cambuk (pecut) yang dibawanya pulang.

Sekaten  tidak  hanya  menjadi  milik  kerajaan  saja,  tetapi  juga  rakyat  biasa.   Bagi  sebagian  besar  masyarakat  Yogyakarta  baik  yang  di  perkotaan  maupun  pedesaan, dari  berbagai  lapisan  sosial,  memandang  sekaten  sebagai  sesuatu  yang  penting dan  merupakan  upacara khas  kejawen  dengan  hikmah  dan  berkah,   merupakan  kebanggaan  daerah  serta  mengingatkan pada  sejarah  kerajaan  Mataram lslam  yang  didirikan  Panembahan  Senopati.

Bagi   keraton,  sekaten  tetap di  teruskan  dan  memiliki  makna  tersendiri.  Makna   religius  berkaitan dengan   kewajiban  Sultan  menyiarkan  agama  lslam,   sesuai  dengan  gelarnya,  yaitu  Sayidin  Panatagama  yang  berarti pemimpin  tertinggi  agama. Dari  sejarahnya berkaitan  dengan   keabsahan  Sultan   dan   kerajaannya   sebagai  pewaris  dari   Panembahan  Senopati  dengan  kerajaan  Mataram  lslamnya   dan  lebih  jauh  lagi masih keturunan  raja-raja  dari masa  kerajaan  Hindu-Budha (Majapahit).  Makna  kultural  yaitu  berkaitan  dengan  Sultan   sebagai  pemimpin  suku Jawa

Perkembangan  Sekaten  Masa  Kini

Pada mulanya, fungsi  sekaten  merupakan  media  penyampaian  dakwah  agama  islam  melalui  kebudayaan oleh  wali  sanga pada  masa kerajaan  Demak.  Sekaten  merupakan  pengganti  dan  penyesuaian tradisi  yang  sudah  ada  sebelumnya.  Jadi   fungsi  utama  sekaten sebagai  syiar  agama islam  melalui  sarana  kebudayaan.  Para  wali  sanga dengan  cerdas memanfaatkan kebudayaan  sebagai  sarana  dakwah.

Namun  sekarang  dengan  perubahan jaman,  nilai itu  meluntur  tapi tidak  hilang,  juga lebih  menonjolkan  fungsi  baru  yaitu  sisi  komersil, ekonomi dan  hiburan.  Salah  satu  sisi  baru dari  sekaten yang  menonjol  adalah  dilihat  secara  ekonomi.  Yaitu penyelenggaraan  sekaten  dikemas dalam  Pasar  Malam  Perayaan   Sekaten  atau  biasa  disingkat  PMPS,   yang dimulai sejak  pemerintahan  Sri  Sultan Hamengkubuwono IX.  Pasar  malam  ini  diselenggarakan  selama  sebulan  di  alun-alun  selatan    dengan  berbagai  hiburan,  stan  penjualan, stan  promosi,  makanan-minuman,  pertunjukan  seni. Pasar  malam  selama  sebulan  di  alun-alun  selatan menjadi  semacam  pesta  bagi  rakyat.    Di  pasar malam sekaten  terdapat  hiburan  rakyat  yang  sulit  ditemui  seperti  ombak  banyu,  tong  setan  dan  berbagai permainan  lainnya.  Pada  hiburan  seperti itu  antusiasme  masyarakat  cukup tinggi,  karena permainan seperti  itu  sulit  ditemui dan  kebutuhan  akan  hiburan.

Perubahan  dan  perkembangan  penyelenggaraan  sekaten,  juga  bergesernya  makna  sekaten  tidaklah mengapa karena  tidak menghilangkan  esensi  sekaten.  Perubahan  tersebut  tak  terelakkan  karena  perubahan  cara  berpikir  masyarakat,  perubahan  kebutuhan dan  berubahnya  jaman.  Perkembangan  sekaten  juga menyesuaikan  dengan  situasi  dan   kondisi  yang  dihadapi. Perubahan  ini  menguntungkan  dan  memberi  manfaat  pada  banyak  pihak.

Penyelenggaraan  sekatenpun  menjadi aset pariwisata  daerah.  Sekatenpun  menjadi   wisata  tidak  hanya  bagi  warga  Yogyakarta saja  tapi  juga dari luar  Yogyakarta,  t  terbukti  ketika  perayaan  sekaten  banyak  wisatawan  dari luar  daerah yang datang  ke  Yogyakarta  untuk  melihat  sekaten.   Ini menunjukkan  bahwa  sekaten  merupakan  aset  wisata yang  menarik.

Dari  sisi  ritual, sekaten  tetap  terpelihara,  dan   masih  mendapat  perhatian  terutama oleh generasi   tua. Bagi  masyarakat   terutama  generasi  tua  yang  masih  percaya memaknai  sekaten  sebagai  sarana  mencari  berkah,  sehingga  merka  berebut  gunungan.

Sekaten  merupakan  wujud  akulturasi  kebudayaan  yang  terus  bertahan  dan  berkembang  melewati  berbagai jaman  sampai  sekarang,  maka  harus  tetap  dilestarikan.  Sekaten  merupakan  fenomena  budaya  yang  unik,  menarik  dan  langka  yang  berkaitan  dengan berbagai  hal.  Sekaten  juga  mngandung  berbagai  makna.  Makna  lama  sudah  semakin  memudar  tapi  muncul  makna  baru  dari  sekaten.    Sekaten  juga  mendatangkan  manfaat  bagi  banyak orang.

Penyelenggaraan  sekaten  penting,  kerena  memang  dibutuhkan  dan  menguntungkan  banyak  pihak,   dan  berkaitan  dengan  banyak  aspek.  Sekaten  di  Yogyakarta  ini  menarik untuk dipelajari.

Daftar   pustaka

Wignyasubrata. Tanpa tahun. Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Keraton    Ngayogyakarta Hadiningrat.

Soelarto, B. 1996. Garebeg Di Kasultanan Yogyakarta.  Yogyakarta :  Kanisius.

Sofyan, Ridin dkk. 2004. Islamisasi di Jawa (Walisongo, Penyebar  Islam  di  Jawa  Menurut Penuturan Babad). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Internet

www.google.com

www.jenjeng.matripe.com

www.sihanss.wordpress.com

www.koko t`s. blogspot.com

www.jangansembarangan`s.blogspot.com

Hello world!

May 28th, 2012

Selamat datang di blog.ugm.ac.id. Ngebloglah dan curahkan pikiran anda disini. Silahkan menggunakan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab.

Admin blog akan melakukan peringatan apabila ada abusement/pelanggaran dalam penggunaan fasilitas ini.

selamat berkarya 🙂